3 Penelitian Yang Mengorbankan Nyawa Kaum Lemah

LiputanInformasi.com – Dengan perkembangan zaman, teknologi-teknologi yang canggih pun semakin banyak tercipta. Teknologi yang diciptakan biasanya sangat menguntungkan kita sebagai manusia yang menggunakannya.

Tetapi ternyata di balik semua itu, ternyata ada kisah mengerikan. Sebelum di perkenalkan kepada publik, teknologi-teknologi tersebut harus melewati uji coba agar tidak terjadi kesalahan dan yang mebahayakan. Manusia lah yang di gunakan sebagai bahan uji coba para peneliti.

Berikut 3 penelitian yang mempertaruhkan nyawa manusia yang lemah:

1. Pada tahun 1940 an, merk yang kita kenal sebagai merk oatmeal Quacker Oat, ingin mengadakan sebuah penelitian. Motivasi Quacker melakukan hal ini adalah karena kompetitornya, Cream of Wheat. Cream of Wheat telah banyak dikenal dan tempat periklanan pun penuh dengan nama tersebut dan memiliki iklan yang berisi bahwa produknya mengandung nutrisi yang bisa tersebar ke seluruh tubuh.

Akhirnya oatmeal Quacker Oat membayar Massachusets Institute of Technology (MIT) untuk mengadakan penelitian yang Quacker inginkan. Quacker ingin menyatakan isi iklan yang sama seperti Cream of Wheat. MIT yang memenuhi permintaan Quacker pun langsung mengumpulkan 100 orang yatim piatu, yang sebagian besar dari mereka merupakan anak keterbelakangan mental.

Anak-anak tersebut diberi makan semangkuk bubur oatmeal yang mengandung kalsium dan metal radioaktif.  Hingga akhirnya besi radioaktif tersebut membuat anak-anak yang keterbelakangan mental tersebut berada pada konfisi yang merugikan.

Karena terbukti membahayakan nyawa, Quacker Oat dan MIT dituntut di pengadilan dengan angka fantastis di kala itu, 1,85 juta dollar.

2. Pada tahun 1996, perusahaan obat asal Amerika Serikat, Pfizer, menguji coba sebuah obat bernama Trovan. Obat ini dilarang untuk di konsumsi di Amerika Serikat maupun di Uni Eropa, karena obat antibiotik ini pernah terbukti memicu penyakit lever pada 200 anak di Nigeria ketika mereka terserang wabah meningitis.

Akhirnya Pfizer kembali ke Nigeria karena wabah meningitis tidak pernah habis di sana untuk menguji coba kembali obatnya. Akhirnya percobaan tersebut berakhir membunuh 50 anak dan membuat sebagian besar lainnya mengalami  cacat mental dan cacat fisik.

Karena hal tersebut, Pfizer akhirnya harus membayar tuntutan sebesar 75 juta dollar.

BACA JUGA>>> 5 Makanan Menjijikan di Dunia!!

3. Di abad ke 19 lalu, terjadi perdebatan dunia tentang bagaimana cara penularan penyakit seksual gonorhea atau kencing nanah. Banyak yang berpendapat bahwa gonorhea tak bisa menyebab seperti bakteri. Karena itu seorang ilmuwan dan dokter bernama Harry Heirnan ingin melakukan percobaan.

Percobaan tersebut tidak ia lakukan kepada tikus melainkan kepada naak keterbelakangan mental. Heirnan membawa dua anak keterbelakangan mental yang masih berumur 4 tahun dan 16 tahun. Setelah itu mereka pun disuntik dengan gonorhea. Sang dokter juga menyuntikkan ke seorang pria berumur 26 tahun yang sedang sekarat.

Yang tak disangka adalah percobaan ini berhasil. Sang dokter gila ini berhasil menularkan gonorhea dan membuktikan bahwa penyebaran gonorhea yaitu seperti bakteri. Tetapi permasalahan terbesarnya adalah Heirnan tak memiliki obat untuk menyembuhkan gonorhea tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *