Pelapor Kaesang Akan Segera Ditahan Karena Alasan Ini

Pelapor Kaesang Akan Segera Ditahan

LiputanInformasi.com – Seorang pria bernama Muhammad Hidayat Simanjuntak melaporkan putra bungsu dari Presiden Joko Widodo ke Sentra Pelayanan Kepolisian Polres Kota Bekasi. Kaesang dituding telah melakukan penodaan agama dan menyebar kebencian.

Namun, Polri telah menyatakan bahwa pelapor akan menjalani proses hukum kembali. Alasannya, Hidayat pernah ditahan dan saat ini ditangguhkan dengan alasan kemanusiaan namun malah membuat gaduh.

“Ditangguhkan karena kemanusiaan, dia sudah tua. Harusnya dia masih ditahan ini. Ini makanya mau diproses lanjut. Dia di luar malah bikin resah seperti itu,” kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Setyo Wasisto di Kompleks Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis (6/7).

Termasuk laporan ke Kaesang, Hidayat telah membuat sedikitnya 60 laporan ke polisi yang membuat resah. “Dulu ia ditangguhkan karena dia sudah tua. Seharusnya saat ini dia masih ditahan. Karena kelakuannya yang buat resah, kasusnya akan di lanjutkan kembali,” lanjutnya.

Pelapor Kaesang Akan Segera Ditahan
Baca Juga: Tanggapan Jokowi Tentang Akan Pindahnya Ibu Kota di Tahun 2018

Seperti yang diketahui, Hidayat ditangguhkan karena permintaan dari istrinya sendiri. Hal tersebut diperbolehkan sebagaimana yang telah diatur dalam undang-undang. “Permintaan penangguhan dulu dari istrinya langsung. Kan boleh, itu haknya dia diatur dalam undang-undang,” katanya.

Sebelumnya, Kaesang dilaporkan oleh Hidayat karena dituding sebagai penyebar kebencian. Berikut kalimat yang dilaporkan.

Di sini aku bukannya membela Pak Ahok. Tapi aku di sini mempertanyakan, kenapa anak seumur mereka bisa begitu? Sangat disayangkan kenapa anak kecil seperti mereka itu udah belajar menyebarkan kebencian? Apaan coba itu? dasar N**** (sensor bunyi). Ini ajarannya siapa coba? dasar N**** (sensor bunyi).

Ndak jelas banget. Ya kali ngajarin ke anak-anak untuk mengintimidasi dan meneror orang lain. Mereka adalah bibit-bibit penerus bangsa kita. Jangan sampai kita itu kecolongan dan kehilangan generasi terbaik yang kita punya.

Untuk membangun Indonesia yang lebih baik, kita tuh harus kerja sama. Iya kerja sama. Bukan malah saling menjelek-jelekan, mengadu domba, mengkafir-kafirkan orang lain. Apalagi ada kemarin itu, apa namanya, yang enggak mau menshalatkan padahal sesama Muslim, karena perbedaan dalam memilih pemimpin. Apaan coba? Dasar N**** (sensor bunyi)

Kita itu Indonesia, kita itu hidup dalam perbedaan. Salam Kecebong”.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *