Kerusuhan Mei 1998, Akhir Perjalanan Soeharto Sebagai Presiden, Ini Yang Dikatakan Soeharto

Kerusuhan Mei 1998, Akhir Perjalanan Soeharto

LiputanInformasi.com – Mungkin hampir seluruh warga negara Indonesia tidak akan bisa melupakan kerusuhan yang terjadi pada bulan Mei 1998. Kerusuhan tersebut dikarenakan keruntuhan ekonomi akibat dari krisis finansial Asia 1997. Sehingga masyarakat ingin Soeharto turun dari jabatan Presiden kala itu.

Awalnya Soeharto tidak ingin turun dari jabatannya yang sudah 31 Tahun lamanya ia duduki. Masyarakat yang geram kemudian membuat kerusuhan yang dimana di mulai oleh mahasiswa dari Universitas Trisakti.

Pada kerusuhan ini banyak toko dan perusahaan dihancurkan oleh amuk massa terutama miliki warga Indonesia keturunan Tionghua.  Terdapat banyak wanita keturunan tionghua mengalami pelecehan seksual dan ratusan yang diperkosa. Sebagian wanita bahkan diperkosa secara bergilir, dianiaya secara sadis sebelum dibunuh.

Akibat peristiwa yang mengerikan tersebut, Soeharto pun menyatakan pengunduran dirinya. Beliau membacakan pertimbangan pegunduran dirinya, sebagai berikut:

“Saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Sejak beberapa waktu terakhir saya mengikuti dengan cermat perkembangan situasi nasional kita, terutama aspirasi rakyat untuk mengadakan reformasi di segala bidang kehidupan berbangsa dan bernegara. Atas dasar pemahaman saya yang mendalam terhadap aspirasi tersebut dan terdorong oleh keyakinan bahwa reformasi perlu dilaksanakan secara tertib, damai, dan konstitusional.

Demi terpeliharanya persatuan dan kesatuan bangsa serta kelangsungan pembangunan nasional, saya telah menyatakan rencana pembentukan Komite Reformasi dan mengubah susunan Kabinet Pembangunan VII. Namun, kenyataan hingga hari ini menunjukkan Komite Reformasi tersebut tidak dapat terwujud karena tidak adanya tanggapan yang memadai terhadap rencana pembentukan komite tersebut.

Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite Reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi.

Kerusuhan Mei 1998
Baca Juga: Pembalap MotoGP Nicky Hayden Meninggal Dunia Karena Kecelakaan Bersepeda

Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik. Oleh karena itu, dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945 dan secara sungguh-sungguh memperhatikan pandangan pimpinan DPR dan pimpinan fraksi-fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari Kamis, 21 Mei 1998.

Pernyataan saya berhenti dari jabatan sebagai Presiden RI saya sampaikan di hadapan saudara-saudara pimpinan DPR dan juga adalah pimpinan MPR pada kesempatan silaturahmi.

Sesuai Pasal 8 UUD 1945, maka Wakil Presiden RI, Prof. Dr. Ing. BJ Habibie yang akan melanjutkan sisa waktu jabatan Presiden/Mandataris MPR 1998-2003. Atas bantuan dan dukungan rakyat selama saya memimpin negara dan bangsa Indonesia ini saya ucapkan terima kasih dan minta maaf bila ada kesalahan dan kekurangan-kekurangannya semoga bangsa Indonesia tetap jaya dengan Pancasila dan UUD 1945.

Mulai hari ini pula Kabinet Pembangunan VII demisioner dan kepada para menteri saya ucapkan terima kasih. Oleh karena keadaan tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan pengucapan sumpah di hadapan DPR, maka untuk menghindari kekosongan pimpinan dalam menyelenggarakan pemerintahan negara, kiranya saudara wakil presiden sekarang juga akan melaksanakan sumpah jabatan presiden di hadapan Mahkamah Agung RI.”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *