Ibu Tien Soeharto Ternyata Bukan Tertembak, Ini Fakta Sebenarnya

LiputanInformasi.com – Raden Ayu Siti Hartinah adalah istri Presiden kedua Indonesia yang biasa lebih akrab dipanggil Ibu Tien Soeharto. Jenderal Purnawirawan Soeharto resmi menikah dengan Siti Hartinah pada tanggal 26 Desember 1947 di Surakarta. Banyak isu yang mengabarkan bahwa beliau meninggal dikarenakan tertembak ataupun ditembak oleh seseorang yang tak dikenal. Tidak sedikit yang meragukan kabar tersebut.

Isu tersebut muncul dari salah satu media yang mewawancarai pedagang kaki lima yang berjualan di dekat istana dimana Ibu Tien Soeharto bertempat. Pedagang: “Ada suara tembakan sebelum ada berita wafatnya Ibu Tien..”

Namun hal itu tidak benar. Anak dari kedua pasangan KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo itu meninggal dikarenakan serangan jantung. Ibu Tien meninggal di Jakarta, 28 April 1996 pada umur 72 tahun.

Sebelumnya, beliau di bawa ke RS Gatot Subroto, Jakarta untuk menjalani perawatan. Saat itu, tim dokter telah berusaha maksimal, namun takdir berkata lain. Siti meninggal dunia pada hari Minggu tepat di jam 05.10 WIB. Siti pun dimakamkan di Astana Giri Bangun, Jawa Tengah, pada 29 April 1996. Upacara pemakaman tersebut dipimpin oleh insepktur upacara yaitu Ketua DPR/MPR saat itu, Wahono dan Komandan upacara Kolonel Inf G. Manurung.

Soeharto & Ibu Tien Soeharto

Ibu Tien Soeharto – Read More: PT Freeport Indonesia Merumahkan dan Memberikan Gaji Pokok Kepada 3.340 Karyawan

Sebelum kepergian Siti, ada cerita yang belum terungkap pada Soeharto. Kala itu, Soeharto sering meluangkan waktu liburnya di laut karena hobi memancingnya. Jumat 26 April 1996, Soeharto dan rombongannya tengah memancing di sebelah barat Anyer. Dalam perjalanan memancingnya itu, beliau hanya mendapatkan dua ekor ikan. “Ini kok tak seperti biasanya” kata Soeharto seperti dituturkan kembali oleh ajudannya, Susanto. Ketika itu, tidak ada firasat buruk apapun yang terpikirkan oleh Soeharto.

Firasat buruk muncul keesokan harinya, ketika ia melaut, cuaca mendadak tidak bersahabat, gelombang air semakin besar, dan angin berhembus kencang. Karena khawatir dan dengan alasan keselamatan, Soeharto dan rombongannya terpaksa merapat ke Kapal TNI AL yang lebih besar.

Pagi harinya setelah badai reda, Soeharto pun memancing di perairan Selat Sunda sebelum memutuskan untuk pulang ke Jakarta. Saat itu juga Soeharto mendapatkan kabar meninggalnya Ibu Tien Soeharto.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *